Sabtu, 12 Mei 2012

SUKU BALI


BAB I
LATAR BELAKANG

Suku Bali adalah sukubangsa yang mendiami pulau Bali, menggunakan bahasa Bali dan mengikuti budaya Bali. Sebagian besar suku Bali beragama Hindu, kurang lebih 90%. Sedangkan sisanya beragama Buddha, Islam dan Kristen.
Ada kurang lebih 5 juta orang Bali. Sebagian besar mereka tinggal di pulau Bali, namun mereka juga tersebar di seluruh Indonesia.
Penyebaran orang Bali ke luar Bali sudah terjadi sejak jaman dahulu kala. Contohnya, pada tahun 1673, ketika penduduk kota Batavia berjumlah 27.086 jiwa sudah terdapat 981 orang Bali. Adapun komposisi bangsa-bangsa lainnya di masa itu adalah sebagagai berikut: 2.740 orang Belanda dan Indo, 5.362 orang Mardijker, 2.747 orang Tionghoa, 1.339 orang Jawa dan Moor (India), dan 611 orang Melayu. Penduduk yang bebas ini ditambah dengan 13.278 orang budak (49 persen) dari bermacam-macam suku dan bangsa (demikian Lekkerkerker). Sebagian besar orang Bali di Batavia didatangkan sebagai budak belian.
Salah satu jejak pengaruh bangsa Bali pada kebudayaan Betawi adalah kesenian Ondel-Ondel. Orang-orangan raksasa ini berasal dari kesenian Barong Landung Bali. Akhiran-in dalam bahasa Betawi, misalnya dalam kata: mainin, nambahin, panjatin, dll yang kemudian juga diadopsi sebagai akhiran yang populer dalam bahasa gaul Indonesia juga berasal mula dari akhiran -in yang lazim dalam tata bahasa Bali.


BAB II
PEMBAHASAN SUKU BALI

1.    PENGERTIAN SUKU BALI

Suku ialah unit sosial MADAT tertinggi, yang terdiri dari satu atau lebih marga. Setiap marga terdiri dari minimal satu Nama Keluarga. Setiap marga memiliki minimal satu keluarga .
Bali berasal dari kata “Bal” dalam bahasa Sansekerta berarti “Kekuatan”, dan “Bali” berarti “Pengorbanan” yang berarti supaya kita tidak melupakan kekuatan kita. Supaya kita selalu siap untuk berkorban. Bali mempunyai 2 pahlawan nasional yang sangat berperan dalam mempertahankan daerahnya yaitu I Gusti Ngurah Rai dan I Gusti Ketut Jelantik.
Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil yang beribu kota Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar, sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tempat tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Suku bangsa Bali dibagi menjadi 2 yaitu: Bali Aga (penduduk asli Bali biasa tinggal di daerah trunyan), dan Bali Mojopahit (Bali Hindu / keturunan Bali Mojopahit).

2.    SEJARAH SUKU BALI

Suku Bali adalah sukubangsa yang mendiami pulau Bali, menggunakan bahasa Bali dan mengikuti budaya Bali. Sebagian besar suku Bali beragama Hindu, kurang lebih 90%.Sedangkan sisanya beragama Buddha, Islam dan Kristen. Ada kurang lebih 5 juta orang Bali.Sebagian besar mereka tinggal di pulau Bali, namun mereka juga tersebar di seluruh Indonesia.
Bali, yang dengan tepat disebut Bali Anka, artinya tempat lahir orang-orang kuat, pada sebuah prasasti Bali disebut dalam suatu naskah Tiongkok sebagai P’o-li. Dikatakan bahwa yang memerintah P’o-li adalah seorang raja dari keluarga Kaundinya, dan dinyatakan bahwa beliau mengirim perutusan-perutusan diplomatik ke Tiongkok pada triwulan abad keenam M.
Sanjaya, penulis prasasti Cangala di Jawa Tengah (732 M), diakui dalam karya Jawa-Kuno yang terakhir sebagai tokoh yang merebut Bali bersama-sama dengan wilayah-wilayah di seberang lautan lainnya. Sejak abad kedelapan atau kesembilan M, bekas-bekas Buddhisme diketemukan di tempat itu yang mungkin berasal dari Sumatera atau Jawa karena mungkin dengan adanya hubungan yang langsung dengan India.
Prasasti pertama yang diberi tanggal itu menyebut seorang raja yang bernama Ugrasena (915-942), yang hidup sezaman dengan Raja Sindhok di Jawa Timur. (Suatu prasasti lebih awal (914 M), menunjuk kepada Adhipati Sri Kesariwarma). Seperti dinyatakan oleh Prof. Dr. George Cedes, kita ketemukan dari catatan-catatan tsb suatu masyarakat Hindu-Bali, tidak sama seperti di Jawa, yang menganut Hinduisme dan Buddhisme bersama-sama, dan berbicara sebuah dialek yang khas Bali.
Pada pertengahan kedua abad kesepuluh, kita mendapatkan beberapa nama bangsawan yang bergelar Warmadewa. Kita mendapatkan nama seorang ratu yang bernama Subhadrikawarmadewi. Prasasti tahun-tahun 989-1022 menyebut nama-nama Raja Udayana dan Ratu Mahendradatta. Ratu ini adalah seorang cucu buyut dari Sindok. Pernikahan ini, menyebabkan semakin mendalamnya penetrasi kebudayaan Jawa, terutama Tantrisme, ke pulau Bali . Airlangga adalah yang menyebabkan pernikahan.
Prof. Dr. F.D.K. Bosch. dari Kern Institute, mempunyai cerita yang aneh tentang pasangan bangsawan ini. Waktu berbicara mengenai persamaan yang sangat mirip antara perkembangan kebudayaan Kambudia dan Jawa pada acara peringatan 50 tahun berdirinya yayasan Ecole Francaise d’Extreme Orient tahun 1952, beliau mengatakan: “Ada alasan yang kuat untuk percaya bahwa Udayana Warman I dari Kambudia, yang memerintah relatif singkat, adalah pangeran yang sama dengan nama Udayana (di Bali dan Jawa) dan telah memainkan peranan penting sebagai ayah Airlangga yang termashur.
Kira-kira pada tahun 970, seorang puteri Kambudia, berduaan dengan Udayana, melarikan diri dari istana Kambudia, waktu masa-masa kesusahan perang penggantian raja. Puteri tersebut menyelamatkan diri ke Tanah Jawa di mana seorang raja Kambuja yang amat terkenal, Jayawarman II, juga telah hidup dalam pengasingan sebelum beliau pulang kembali ke Kamboja. Waktu di Jawa pangeran Kambudia, Udayadityawarman menjadi dewasa dan pada usia 15 tahun beliau menikah dengan seorang puteri Jawa. Persekutuan Khmer-Jawa ini memperkuat posisi yang memerintah di Jawa, dan sekarang merebut Bali . Kemudian beliau mengangkat Pangeran Udayana (atau Udayaditya) dan mempelainya menjadi gubernur Bali . Sekitar tahun 1009, Udayaditya dengan bantuan orang-orang Jawa merebut tahta Kambudia.
Akan tetapi beliau tidak dapat tetap berada di Jawa untuk hanya satu tahun saja, dan beliau dipaksa untuk kembali ke Bali , di mana beliau memerintah sebagai gubernur sampai tahun 1022 sekitar tahun 991 Airlangga lahir dan pada usia yang muda menyeberang ke Jawa untuk menikah dengan puteri raja yang memerintah di Jawa Timur. Barangkali nama Airlangga berasal dari kisah hidup beliau. “Airlangga” artinya “ia yang menyeberang air yaitu selat yang memisahkan Bali dari Jawa. Airlangga, Beliau tampaknya mewakilkan pemerintahan Bali, tempat beliau dilahirkan, kepada seorang wakil raja, Dharmawamsa Marakatapankaja, yang namanya tampak di prasasti-prasasti Bali selama tahun 1020-1025.
Selama tahun 1049-1077, prasasti-prasasti Bali menunjuk kepada ‘anak wungsu,’ misalnya balaputra (anak bungsu) – mungkin keluarga dekat Airlangga. Suradhipa dan Jayasakti adalah nama-nama raja-raja yang tampil pada masa 1115-1150 M. Seratus tahun kemudian, Kertaanagara raja Singasari, setelah mengkonsolidasikan posisi beliau di Sumatera pindah ke Bali . Pada tahun 1284 beliau memenjarakan raja Bali.

3.    UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN SUKU BALI

a.    Bahasa

Bali sebagian besar menggunakan bahasa Bali dan bahasa Indonesia, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Bahasa Inggris adalah bahasa ketiga dan bahasa asing utama bagi masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh kebutuhan industri pariwisata. Bahasa Bali di bagi menjadi 2 yaitu, bahasa Aga yaitu bahasa Bali yang pengucapannya lebih kasar, dan bahasa Bali Mojopahit yaitu bahasa yang pengucapannya lebih halus.  Dapat disimak pada beberapa contoh berikut :
Wěwangsalan :
a.    Subă bawang buin tambusin,
Subă tawang buin tandruhin.
(Artinya : sudah tau tapi pura-pura tidak kenal).
b.    ClÄ›bingkah bantan biu,
Gumi lingkah ajak liu.
(Artinya : bumi yang halus ini adalah untuk anekaragam kehidupan).
Bahasa Bali juga banyak terpengaruh bahasa Jawa, terutama bahasa Jawa Kuna dan lewat bahasa Jawa ini, juga bahasa Sansekerta. Kemiripan dengan bahasa Jawa terutama terlihat dari tingkat-tingkat bahasa yang terdapat dalam bahasa Bali yang mirip dengan bahasa Jawa. Maka tak mengherankanlah jika bahasa Bali halus yang disebut basa Bali Alus Mider mirip dengan bahasa Jawa Krama. Banyak kata-kata Bali yang halus diambil dari bahasa Jawa:  
Melayu    Bali    Jawa Kuna    Jawa Baru
Dua    Dua    Rwa    ro, loro
Jalan    Jalan    Dalan    Dalan
Dengar    DingÄ›h    RÄ•ngö    Rungu
Jarum    Jaum    Dom    Dom
Jauh    Joh    Doh    Doh
Ada    Ada    Hana    Ana
Beli    BÄ›li    wÄ•li, tuku    Tuku
jari, jeriji    Jriji    (?)    Driji
betis, kaki    batis, bais    jöng, suku    Sikil
Hidup    Idup    Hurip    Urip
air, ayer    Yèh    Wway    we, banyu
Buah    buah, woh    Wwah    Woh
Di    Di    ri, ring    i, ing
Telur    Taluh    Antiga    tigan, Ä•ndhog
Jemur    JÄ›muh    (?)    Pepe
Bunga    Bunga    Kambang sÄ•kar    KÄ•mbang sÄ•kar
Nasi    Nasi    SÄ•ga sÄ•kul    SÄ•ga sÄ•kul
Hujan    Ujan    Hudan    Udan

b.    Religi

Agama yang di anut oleh sebagian orang Bali adalah agama Hindu sekitar 95%, dari jumlah penduduk Bali, sedangkan sisanya 5% adalah penganut agama Islam, Kristen, Katholik, Budha, dan Kong Hu Cu. Tujuan hidup ajaran Hindu adalah untuk mencapai keseimbangan dan kedamaian hidup lahir dan batin.orang Hindu percaya adanya 1 Tuhan dalam bentuk konsep Trimurti, yaitu wujud Brahmana (sang pencipta), wujud Wisnu (sang pelindung dan pemelihara), serta wujud Siwa (sang perusak). Tempat beribadah dibali disebut pura. Tempat-tempat pemujaan leluhur disebut sangga. Kitab suci agama Hindu adalah weda yang berasal dari India.
Orang yang meninggal dunia pada orang Hindu diadakan upacara Ngaben yang dianggap sanggat penting untuk membebaskan arwah orang yang telah meninggal dunia dari ikatan-ikatan duniawinya menuju surga. Ngaben itu sendiri adalah upacara pembakaran mayat. Hari raya umat agama hindu adalah Nyepi yang pelaksanaannya pada perayaan tahun baru saka pada tanggal 1 dari bulan 10 (kedasa), selain itu ada juga hari raya galungan, kuningan, saras wati, tumpek landep, tumpek uduh, dan siwa ratri.
Pedoman dalam ajaran agama Hindu yakni :
a.    Tattwa (filsafat agama),
b.    Etika (susila),
c.    Upacara (yadnya).

Dibali ada 5 macam upacara (panca yadnya), yaitu
1)    Manusia Yadnya yaitu upacara masa kehamilan sampai masa dewasa.
2)    Pitra Yadnya yaitu upacara yang ditujukan kepada roh-roh leluhur.
3)    Dewa Yadnya yaitu upacara yang diadakan di pura / kuil keluarga.
4)    Rsi yadnya yaituupacara dalam rangka pelantikan seorang pendeta.
5)    Bhuta yadnya yaitu upacara untuk roh-roh halus disekitar manusia yang mengganggu manusia.

Ada juga yang berbeda dengan Desa Trunyan, tradisi kamar mayat. Mulai dari Toya Bungkah, banyak perahu akan menyeberangi danau menuju ke sebuah desa Bali Aga, yang dikenal dengan nama Trunyan. Tempat ini terkenal dengan tradisi kamar mayatnya. Berbeda dengan pengkremasian mayat yang biasa dilakukan penduduk Bali di seluruh pulau, masyarakat Trunyan meninggalkan tubuh mayat di bawah pohon Trunyan agar membusuk secara alami di sebuah kuburan khusus. Meskipun begitu, mayat-mayat ini tidak meninggalkan bau menyengat, Desa Trunyan yang terletak di dekat danau.

d.    Mata pencaharian

Mata pencarian penduduk beranekaragam yang meliputi pekerjaan sebagai petani, pengerajin, pedagang dan berbagai jasa khususnya bidang kepariwisataan. Pertanian merupakan mata pencarian pokok masyarakat dan sebagian besar masyarakat bali adalah petani.  Jenis pertanian meliputi pertanian sawah dan perkebunan. Didalam system pertanian di bali subak memegang peranan yang sangat penting.  Saat ini di Bali terdapat sekitar 1.482 subak dan subak abian sekitar 698.
Subak merupakan salah satu lembaga tradisional yang  merupakan satu kesatuan para pemilik atau penggarap sawah yang menerima air irigasi dari satu sumber air atau bendungan tertentu. Subak merupakan satu kesatuan ekonomi, social dan keagamaan.Tugas warga subak pada umumnya adalah mengatur pembagian air, memelihara dan memperbaiki sarana irigasi, melakukan pembrantasan hama, melakukan inovasi pertanian dan mengkosepsikan serta mengaktifkan upacara.

e.    Sistem kemasyarakatan

Kondisi alam suku bali seperti itu disertai pula oleh sedikit perbedaan antara penduduk pegunungan dengan dataran rendah. Dimana penduduk dataran tinggi jumlahnya lebih sedikit dan agak terpengaruh oleh kebudayaan luar, disamping bahasanya yang memang sedikit berbeda dengan bahasa orang Bali pada umumnya. Kelompok masyarakat di pegunungan ini lebih suka disebut sebagai orang Aga atau Bali Aga. Untuk membedakannya maka orang Bali yang lebih terpengaruh oleh agama Hindu disebut sebagai orang Bali Hindu.
Jumlah populasi suku bangsa Bali secara keseluruhan pada tahun 1982 adalah sekitar 2,6juta jiwa. Orang Bali Hindu tersebar hampir di seluruh dataran Bali. Bahasanya sendiri terbagi dalam beberapa dialek, yaitu : dialek Buleleng, Karangasem, Klugkung, Bangli, Gianyar, Badung, Tabanan dan Jembrana. Bahasa Bali Hindu mengenal 3 tingkatan pemakaian bahasa, yaitu bahasa Alus, Lumrah (Madya) dan Bahasa Bali Kasar, berbeda dengan bahasa Bali Aga yang hampir tidak mengenal tingkatan seperti itu. Akan tetapi sekarang bahasa Bali Alus digunakan secara resmi oleh hampir semua golongan dalam pergaulan di daerah Bali sendiri.
Sistem garis keturunan dan hubungan kekerabatan orang Bali berpegang kepada prinsip patrilineal (purusa) yang amat dipengaruhi oleh sistem keluarga luar patrilineal yang mereka sebut dadia dan sistem pelapisan sosial yang disebut wangsa (kasta). Sehingga mereka terikat kedalam perkawinan yang bersifat endogamidaiadan atau endogamiwangsa. Orang-orang yang masihsatukelas (tunggalkawitan, tunggaldadia dan tunggal sanggah) sama-sama tinggi tingkatannya. Dalam perkawinan endogamiklen dan kastaini yang paling ideal adalah antara pasangan dari anak dua orang laki-laki bersaudara.
Masyarakat Bali Hindu memang terbagi kedalam pelapisan sosial yang dipengaruhi oleh sistem nilai yang tiga, yaitu utama, madya dan nista. Kasta utama atau tertinggi adalah golongan Brahmana, kasta Madya adalah golongan Ksatrya dan kastanista adalah golongan Waisya. Selain itu masih ada golongan yang dianggap paling rendah atau tidak berkasta yaitu golongan Sudra, sering juga mereka disebut jabawangsa (tidak berkasta). Dari kekuatan sosial kekerabatannya dapat pula dibedakan atas pande, pasek, bugangga dan sebagainya.
Kehidupan sosial budaya masyarakat Bali sehari-hari hampir semuanya dipengaruhi oleh keyakinan mereka kepada agama Hindu Darma yang mereka anut sejak beberapa abad yang lalu. Oleh karena itu studi tentang masyarakat dan kebudayaan Bali tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sistem religi Hindu.
Pola perkampungan/ permukiman orang Bali dari segi strukturnya dibedakan atas 2 jenis, yaitu :
a)    Pola perkampungan mengelompok padat, pola ini terutama terdapat pada desa-desa di Bali bagian pegunungan. Pola perkampungan di desa-desa ini bersifat memusat dengan kedudukan desa adat amat penting dan sentral dalam berbagai segi kehidupan warga desa tersebut.
b)    Pola perkampungan menyebar,  pola ini terutama terdapat pada desa-desa di Bali dataran, dimana baik wilayah maupun jumlah warga desa disini jauh lebih luas dan lebih besar dari desa-desa pegunungan. Desa-desa di Bali dataran yang menunjukkan pola menyebar terbagi lagi dalam kesatuan-kesatuan sosial yang lebih kecil yang disebut Banjar. Banjar disini pada hakekatnya adalah juga suatu kesatuan wilayah dan merupakan bagian dari suatu desa dengan memiliki kesatuan wilayah, ikatan wilayah, ikatan pemujaan, serta perasaan cinta dan kebanggaan tersendiri.
Tata kehidupan masyarakat Bali khususnya di Kabupaten Gianyar, secara umum terbagi menjadi 2 (dua), yaitu :
a)    Sistem kekerabatan yang terbentuk menurut adat yang berlaku, dan dipengaruhi oleh adanya klen-klen keluarga; seperti kelompok kekerabatan disebut Dedia (keturunan), pekurenan, kelompok kekerabatan yang terbentuk sebagai akibat adanya perkawinan dari anak-anak yang berasal dari suatu keluarga inti.
b)    Sistem kemasyarakatan merupakan kesatuan-kesatuan sosial yang didasarkan atas kesatuan wilayah/ territorial administrasi (perbekelan/kelurahan) yang pada umumnya terpecah lagi menjadi kesatuan sosial yang lebih kecil yaitu banjar dan territorial adat. Banjar mengatur hal-hal yang bersifat keagamaan, adat dan masyarakat lainnya.
Dari sistem kemasyarakatan yang ada ini maka warga desa bisa masuk menjadi dua keanggotaan warga desa atau satu yaitu : sistem pemerintahan desa dinas sebagai wilayah administratif dan desa pakraman. Dari kehidupan masyarakat setempat terdapat pula kelompok-kelompok adat.

f.    Sistem pengetahuan

Setiap suku bangsa memiliki seperangkat pengetahuan, hasil akumulasi pengalaman secara turun-temurun melalui proses belajar dari masyarakat lain, setiap suku bangssa biasanya mempunyai pengetahuan tentang alam sekitar, pengetahuan flora dan fauna, sistem pengobatan, sifat dan tingkah laku manusia, dan pengetahuan tentang ruang dan waktu lainnya.  Banjar atau bisa disebut sebagai desa adalah suatu bentuk kesatuan-kesatuan social yang didasarkan atas kesatuan wilayah. Kesatuan social tersebut diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara keagamaan. Banjar dikepalahi oleh klian banjar yang bertugas sebagai menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dan keagamaan,tetapi sering kali juga harus memecahkan soal-soal yang mencakup hukum adat tanah, dan hal-hal yang sifatnya administrasi pemerintahan.
Dalam perkembangan sejarahnya sistem pengetahuan ini telah dimiliki oleh kelompok-kelompok masyarakat sejak masa lampau dan diwarisi dari nenek moyangnya. Sistem pengetahuan yang dimiliki ini merupakan sistem pengetahuan tradisional atau sistem pengetahuan pra-modern. Sistem pengetahuan tradisional memiliki sifat non-scientific knowledge yang kebenaranya tidak dapat dibuktikan atau diferifikasi melalui pengujian ilmiah. Pengetahuan tradisional mengenai alam sekitarnya merupakan pengetahuan yang timbul sebagai respon terhadap gejala alam yang dialami sebagai pengalaman dalam hidup manusia, berbagai sifat dan perubahan gejala alam sangat memengaruhi perkembangan akal dan pemikiran manusia dalam perjalanan hidupnya. Melalui pengalaman hidupnya berbagai sifat dan perubahan gejala alam tersebut mulai dikenali dan dipahami sehingga mereka dapat menyesuaikan dan mengatur pola kegiatan dalam kehidupannya untuk memperoleh manfaat dari alam sekitarnya untuk kelangsungan hidupnya.  Dengan demikian suku bali mempunyai pengetahuan tentang :
a)    Alam sekitarnya,
b)    Alam flora di daerah tempat tinggalnya,
c)    Alam fauna di derah tempat tinggalnya,
d)    Zat-zat, bahan mentah, dan benda-benda dalam lingkungannya,
e)    Tubuh manusia,
f)    Sifat-sifat dan tingkah laku sesama manusia,
g)    Ruang dan waktu.

g.    Sistem teknologi

Temuan-temuan prasejarah membuktikan bahwa masyarakat suku bali banyak dipengaruhi oleh berbagai kebudayaan dan tipe sosial budaya dari luar, khususnya Hindu, Islam, dan tipe sosial budaya barat. Bukti budaya prasejarah itu ada yang berasal dari zaman paleolitik seperti kapak genggam di daerah kintamani dan sembiran, alat-alat dari zaman neolitik seperti kapak, pahat, beliung yang telah dihaluskan tersebar diberbagai tempat dibali, kemudian sisa-sisa megalitik yang ditemukan seperti tahta batu, punden berundak sebagai simbol kepercayaan bahwa roh orang yang meninggal akan pergi ketempat yang tinggi melalui tingkatan-tingkatan.
Masyarakat Bali telah mengenal dan berkembang system pengairan yaitu system subak yang mengatur pengairan dan penanaman di sawah-sawah. Dan mereka juga sudah mengenal arsitektur yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan yang menyerupai bangunan Feng Shui. Arsitektur merupakan ungkapan perlambang komunikatif dan edukatif. Bali juga memiliki senjata tradisional yaitu salah satunya keris. Selain untuk membela diri, menurut kepercayaan bila keris pusaka direndam dalam air putih dapat menyembuhkan orang yang terkena gigitan binatang berbisa.
Anggota subak adalah orang-orang yang mempunyai sawah yang berada dalam satu areal persawahan, batas subak adalah semua sawah yang diairi dari sebuah bendungan (empelan) dan satu saluran utama (telabah gede). Air dari saluran utama ini terbagi dalam puluhan saluran kecil yang akan masuk ke sawah-sawah. Subak biasanya memiliki pura yang khusus dibangun oleh para petani dan diperuntukan bagi dewi kemakmuran dan kesuburan Dewi sri, karena itu subak merupakan kelompok keagamaan yang menyelenggarakan upacara berkenaan dengan kegiatan pertanian yang bersangkutan, ditengah sawah terdapat sebuah pura seperti pura masceti, pura alun sawi. Upacara yang dilaksanakan sesuai dengan giliran berdasarkan pada sistem waktu yang disebut sebagai sistem masa untuk mencegah permintaan air yang berlebihan pada masa yang sama.

h.    Sistem kesenian

Kebudayaan kesenian di bali di golongkan 3 golongan utama yaitu seni rupa misalnya seni lukis, seni patung, seni arsistektur seni pertunjukan misalnya seni tari, seni sastra, seni drama, seni musik, dan seni audiovisual misalnya seni video dan film.
Seni arsitektur dibali dapat ditemui pada permukaan kayu, baik yang berupa peralatan rumah tangga, benda-benda seni, rumah, perahu, maupun benda-benda pusaka dan peralatan upacara, dibali benda-benda seni diukir kemudian dijual untuk keperluan pariwisata, dan ada pula ukiran yang dibuat di gapura dan pura untuk pemujaan pada nenek moyang atau dewata.  Bangunan-bangunan yang terukir pada dinding Candi jago dapat disaksikan pada pura-pura dibali. Namun, penampilan rumah tinggal orang bali yang sangat berbeda dari penampilan rumah orag jawa, rumah orang bali yang beragama Hindu dan terpengaruh oleh majapahit pada umumnya dibatasi pekarangan yang didalamnya terdapat beberapa bangunan berpanggung rendah diatas batur persegi empat.



BAB III
PENUTUP

-    KESIMPULAN

        Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil yang beribu kota Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar, sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tempat tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan. Bahasa Bali juga banyak terpengaruh bahasa Jawa, terutama bahasa Jawa Kuna dan lewat bahasa Jawa, dan kemudian dalam Mata Pencaharian penduduk bali beranekaragam yang meliputi pekerjaan sebagai petani, pengerajin, pedagang dan berbagai jasa khususnya bidang kepariwisataan. Pertanian merupakan mata pencarian pokok masyarakat dan sebagian besar masyarakat bali adalah petani.
Pola perkampungan/ permukiman orang Bali dari segi strukturnya dibedakan atas 2 jenis, yaitu :
a.    Pola perkampungan mengelompok padat,
b.    Pola perkampungan menyebar.



REFERENSI

•    http://id.wikipedia.org/wiki/Suku 
•    http://sejarah.info/2012/01/sejarah-budaya-pulau-bali.html
•    http://galeriwisata.wordpress.com/wisata-bali/kintamani-bali/
•    http://trinil.wordpress.com/2009/03/27/sekilas-sejarah-bali-kuno/
•    http://doriju7697.wordpress.com/2011/10/06/bahasa-bali/
•    http://de-kill.blogspot.com/2009/04/sekilas-budaya-bali.html
•    http://baliterkini.wordpress.com/2009/09/05/mata-pencaharian/
•    http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2009/11/04/sistem-kemasyarakatan-di-bali/
•    Tedi sutardi, Antropologi (mengungkap keragaman budaya untuk kelas XII SMA/MA Program Bahasa), PT Setia Purna Lues. Bandung.
•    http://nag7ege9.wordpress.com/
•    Bagoes Wirjomartono Dkk, Sejarah Kebudayaan Indonesia (Arsitektur), Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2009.
•    Mundardjito Dkk, Sejarah Kebudayaan Indonesia (sistem Teknologi), Raja Grafindo Persada jakarta , 2009.
•    Moh. Iskandar Dkk, Sejarah Kebudayaan Indonesia (sistem pengetahuan), Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2009.
•    Achadiati Ikram, Sejarah Kebudayaan Indonesia (bahasa, sastra, dan aksara), Raja Grafindo Persada, Jakarta,2009.
•    Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, Jakarta, 2002.

SUPERVISI BIMBINGAN PENYULUHAN

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam proses penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di sekolah sering bermunculan beberapa masalah yang pada umumnya dihadapi oleh peserta didik. Terkadang seorang peserta didik tampak menjalani suatu perkembangan dan kemajuan dalam belajar di sekolah dengan lancar dan berhasil tetapi terganggu oleh masalah yang selama ini tidak dapat terpecahkan olehnya.
Masalah yang sering dihadapi oleh para peserta didik pada dasarnya telah disadari atau diketahui oleh pihak sekolah, akan tetapi banyak dari pihak pendidik yang tidak mengetahui masalah tersebut karena kurang adanya interaksi antara peserta didik dan pendidik diluar ruang kelas. Justru itu diperlukan pembimbing dan penyuluh pendidikan yang bekerja khusus untuk menampung dan memecahkan masalah yang dihadapi oleh para peserta didik agar proses kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat berjalan dengan optimal dan lebih baik lagi.
Setelah pembimbing dan penyuluh pendidikan atau lebih dikenalnya dengan sebutan guru BK (Bimbingan Konseling) terdapat di sekolah, pastinya guru BK tersebut tidaklah sempurna dalam menjalankan kinerjanya dan membutuhkan pengawasan / pembinaan dari Supervisi agar terkontrolnya kinerja guru BK dalam membimbing para peserta didik di sekolah dan terbantunya proses kegiatan belajar mengajar yang lebih baik.
Supervisi bimbingan dan penyuluhan sangat diperlukan oleh pihak sekolah secara umum karena supervise bukan hanya membantu guru BK tetapi juga dapat membantu seluruh staf sekolah untuk mengembangakan situasi belajar mengajar yang lebih baik dan optimal.




BAB. II
SUPERVISI BIMBINGAN PENYULUHAN



A.    Pengertian supervisi bimbingan penyuluhan
Diartikan secara Etimologi, Supervisi bearti pengawasan, penilikan, pembinaan . Sedangkan secara Terminologi, Supervisi adalah Bantuan berbentuk pembinaan yang di berikan kepada seluruh staf sekolah untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik .
Setelah mengetahui supervisi, harus diketahui juga pengertian dari bimbingan baik bersifat umum maupun khusus. Bimbingan bersifat umum merupakan usaha-usaha untuk memberikan penerangan atau pendidikan agar yang menerima bimbingan lebih mengetahui, lebih menyenangi, lebih bersikap positif terhadap apa yang dibimbingkan. Sedangkan yang bersifat khusus yaitu bimbingan yang diberikan oleh guru, pembimbing atau penyuluh pendidikan kepada anak-anak yang dalam perkembangan pendidikannya memperlihatkan kelambatan atau hambatan/kesulitan .
Melihat sifat dari bimbingan yang diuraikan diatas, lebih tepatnya yang banyak dibahas yaitu bimbingan yang bersifat khusus karena berhubungan dengan bimbingan pendidikan yang dilakukan guru di sekolah. Bimbingan yang merupakan suatu usaha guru atau penyuluh pendidikan dalam membantu anak memahami dirinya, lingkungannya, mengarahkan diri dan menyesuaikan diri, agar tercapai perkembangan yang optimal .
Dari penjelasan yang telah diuraikan, dapat ditarik kerangka kesimpulan bahwa supervise bimbingan penyuluhan merupakan pengawasan dan pembinaan yang diberikan kepada pembimbing atau penyuluh pendidikan untuk membantu anak-anak yang dalam tahap perkembangan pendidikannya agar situasi situasi belajar mengajar lebih optimal.

B.    Fungsi supervisi bimbingan penyuluhan
Menurut Hawkins dan Shohet dari hasil identifikasi mereka bahwa Fungsi dari Supervisi dalam bimbingan penyuluhan yang utamanya ada Tiga fungsi, yaitu :
1.    Edukasional, dengan tujuan memberikan konselor kesempatan reguler untuk menerima umpan balik, mengembangakan pemahaman baru dan menerima informasi.
2.    Suportivitas peran supervise, dimana konselor dapat membagi dilemma mereka, memvalidasi kinerja kerja mereka dan berhadapan dengan tekanan atau counter-transference yang diingat oleh klien.
3.    Manajemen supervise, untuk memastikan kualitas kerja dan menolong konselor untuk merencanakan pekerjaan dan memanfaatkan sumber .

C.    Arah dan Tujuan Supervisi Bimbingan Penyuluhan
Adapun arah supervisi dalam program bimbingan adalah:
a.    Mengontrol kegiatan-kegiatan dari para personil bimbingan yaitu bagaimana pelaksanaan tugas dan tanggung jawab mereka masingmasing.
b.    Mengontrol adanya kemungkinan hambatan-hambatan yang ditemui oleh para personil bimbingan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.
c.    Memungkinkan dicarinya jalan keluar terhadap hambatanhambatan
dan permasalahan-permasalahan yang ditemui.
d.    Memungkinkan terlaksananya program bimbingan secara lancar kearah pencapaian tujuan sebagaimana yang telah ditetapkan .

Tujuan dari Supervisi yang dilaksanakan adalah untuk membantu memperbaiki dan meningkatkan pengelolaan sekolah sehingga tercapai kondisi kegiatan belajar mengajar atau bimbingan dan konseling yang sebaik-baiknya .

D.    Prinsip-prinsip Supervisi Bimbingan Penyuluhan
Dalam prinsip Supevisi bimbingan dan penyuluhan dapat dibagi berdasarkan sifatnya yaitu prinsip secara umum dan khusus :
1.    Prinsip umum
a.    Supervisi harus bersifat praktis,dalam arti dapat di kerjakan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah
b.    Hasil supervisi harus berfungsi sebagai sumber informasi bagi staf sekolah untuk pengembangan proses belajar mengajar/ bimbingan konseling
c.    Supervisi dilaksanakan dengan mekanisme yang menunjang kurikulum yang  berlaku
2.    Prinsip khusus
Supervisi hendaknya dilaksanakan secara :
a.    Sistematis artinya supervisi di kembangkan dengan perencanaan yang matang sesuai dengan sasaran yang di inginkan.
b.    Objektif artinya supervisi memberikan masukkan sesuai dengan aspek yang terdapat dalam instrumen
c.    Realistis artinya supervisi di dasarkan atas kenyataan yang sebenarnya yaitu pada keadaan hal-hal yang sudah di pahami dan di lakukan oleh para staf sekolah
d.    d.Antisipatif artinya supervisi diarahkan untuk menghadapi kesulitan- kesulitan yang mungkin akan terjadi.
e.    Konstruktif artinya supervisi memberikan saran-saran perbaikan kepada yang di supervisi untuk berkembang sesuai dengan ketentuan atau aturan yang berlaku.
f.    Kreatif artinya supervisi mengembangkan.

E.    Sasaran Supervisi Bimbingan Penyuluhan
Melihat lebih dalam dari sasaran kegiatan Supervisi bimbingan dan penyuluhan di sekolah yaitu sasarannya dapat ditinjau dari dua aspek :
1.    Aspek yang disupervisi
a.    Administrasi yang mencakup administrasi pelayanan bimbingan penyuluhan di sekolah
b.    Ekukatif yang mencakup pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan di sekolah
2.    Orang yang melakukan supervisi
a.    Supervisi dilakukan oleh pengawas atau kepala sekolah kepada:
(1) kepala sekolah
(2) guru pembimbing atau konselor
(3) siswa
b.    Supervisi oleh kepala sekolah ditujukan kepada guru pembimbing/konselor/siswa .

F.    Materi Supervisi Bimbingan Penyuluhan
Guru pembimbing/konselor bertugas menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah sesuai dengan petunjuk pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan. sebagai pelaksana utama, tenaga inti, guru pembimbing/konselor bertugas  :
a.    Memasyakatkan pelayanan bimbingan.
b.    Merencanakan program bimbingan.
c.    Melaksanakan seluruh pelayanan bimbingan.
d.    Menilai proses dan hasil pelayanan bimbingan dan kegiatan pendukungnya.
e.    Melaksanakan kegiatan pendukung bimbingan.
f.    Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian.
g.    Mengadministrasikan layanan dan nkegiatan pendukung bimbingan yang dilaksanakannya.
h.    Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatannya dalam pelayanan bimbingan.

Secara khusus dapat dikatakan bahwa materi supervisi bimbingan dan penyuluhan di sekolah mencakup :
a.    Layanan dan orientasi pokok
1.    Layanan orientaso
2.    Layanan informasi
3.    Layanan bimbingan penempatan dan penyaluran
4.    Layanan bimbingan belajar
5.    Layanan konseling kelompok
6.    Layanan konseling perorangan
b.    Kegiatan pendukung bimbingan
1.    Aplikasi instrumentasi bimbingan
2.    Penyelenggaraan himpunan data
3.    Konferensi kasus
4.    Kunjungan rumah
5.    Alih tangan kasus .

G.    Pelaksanaan Supervisi Bimbingan Penyuluhan
Ada Sejumlah format berbeda dalam pelaksanaan supervisi ( Hawkins dan Shohert,19890). Kesepakatan paling umum adalah membuat kontrak sesi individual selama beberapa periode waktu dengan orang yang sama.
Hawkins dan Shohert (1989,2000) telah membangun model proses supervisi yang sangat bermanfaat untuk menjelaskan beberapa isu ini. Mereka berpendapat bahwa enam level operasi dalam supervisi:
1.    Refleksi terhadap muatan sesi penyuluhan. Fokusnya di sini adalah klien, apa yang di ucapkannya,bagaimana berbagai bagian dari kehidupan klien saling bertautan dan apa yang di inginkan klien dari penyuluhan.
2.    Eksplorasi tekhnik dan strategi yang di gunakan oleh konselor. Tingkatan ini berkenaan dengan maksud terapeutuik konselor,dan pendekatan yang di ambilnya untuk membantu klien.
3.    Eksplorasi terapeutik.Tujuan dari level ini menguji cara interaksi antara klien dan konselor, dan apakah mereka telah membangun aliansi kerja yang berfungsi.
4.    Perasaan konselor kepada klien. Dalam daerah supervisi ini, Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan memahami reaksi conter- transference konselor, dan isu personal yang di rangsang kembali melalui kontak dengan klien.
5.    Apa yang terjadi saat ini dan sekarang antara supervisor dan yang di awasi. Hubungan yang terjadi dalam sesi supervisi mungkin memaparkan karakteristik yang mirip dengan hubungan antara konselor dan kliennya.
6.    Counter- transference supervisor ( pengawas). Perasaan pengawas merespons yang di awasi juga dapat memberikan panduan kepada kepada beberapa cara untuk melihat kasus yang tidak secara sadar diartikulasikan oleh pengawas atau yang di awasi, sekaligus memberikan kontribusi terhadap pemahaman kualitas hubungan pengawas dengan yang di awasi.

H.    Metode / Tekhnik Supervisi Bimbingan PenyuluhanTeknik pelaksanaan supervisi bimbingan dan penyuluhan dapat mengguanakan beberapa alternatif teknik supervisi yaitu
a.    Kunjungan kelas
b.    Observasi kelas
c.    Kunjungan dan atau observasi dokumentasi ke ruang bimbingan
d.    Wawancara
e.    Angket.
f.    Laporan secara tertulis .

 

BAB. III
PENUTUP


Sebagai penutup dapat dirangkum bahwa Supervisi bimbingan dan penyuluhan sangat diperlukan oleh pihak sekolah secara umum karena supervise bukan hanya membantu guru BK tetapi juga dapat membantu seluruh staf sekolah untuk mengembangakan situasi belajar mengajar yang lebih baik dan optimal.
Dapat disimpulkan juga bahwa Supervise bimbingan penyuluhan merupakan pengawasan dan pembinaan yang diberikan kepada pembimbing atau penyuluh pendidikan untuk membantu anak-anak yang dalam tahap perkembangan pendidikannya agar situasi situasi belajar mengajar lebih optimal.
Selain itu adajuga tujuan dari Supervisi yang dilaksanakan adalah untuk membantu memperbaiki dan meningkatkan pengelolaan sekolah sehingga tercapai kondisi kegiatan belajar mengajar atau bimbingan dan konseling yang sebaik-baiknya .


Referensi ;

Drs. Sisilo Riwayadi & Suci Nur Anisyah, “Kamus Populer Ilmiah Lengkap”, Sinar Terang, Surabaya.

Drs. Dewa Ketut Sukardi, M.ba. MM., “Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah”, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2008.

Drs. Rochman Natawidjaja & Drs. Nana Syaodieh Sukmadinata, “Bimbingan dan Penyuluhan”, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1985.

John Meleod, “Pengantar Konseling”, Kencana Prenada Media group, Bandung, 2006.

http://id.shvoong.com/social-sciences/counseling/2173703-pengarahan-supervisi-dan-penilaian-kegiatan/#ixzz1rymFTAWJ

Rabu, 09 Mei 2012

Suku Gayo


Seribu Bukit Milik Suku Gayo-ku

Suku Gayo adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Suku Gayo mendiami tiga kabupaten yaitu Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Gayo Lues. Suku Gayo juga mendiami beberapa desa di Kabupaten Aceh Tenggara , Kabupaten Aceh Tamiang , Kecamatan Beutong Kabupaten Nagan Raya dan di Kecamatan Serba Jadi di Kabupaten Aceh Timur.

Suku Gayo beragama Islam dan mereka dikenal taat dalam agamanya. Suku Gayo menggunakan bahasa yang disebut bahasa Gayo.

Kepercayaan

Suku Gayo beragama Islam,tetapi masih ada yang percaya terhadap praktek perdukunan.

Mata pencaharian

Mata pencaharian utama adalah bertani dan berkebun dengan hasil utamanya kopi. Mereka juga mengembangkan kerajinan membuat keramik, menganyam, dan menenun. Kerajinan lain yang cukup mendapat perhatian adalah kerajinan membuat sulaman kerawang Gayo, dengan motif yang khas.

Kerajaan Lingga

Kerajaan Lingga atau Linge (dalam bahasa gayo) di tanah Gayo, menurut M. Junus Djamil dalam bukunya "Gajah Putih" yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Atjeh pada tahun 1959, Kutaraja, mengatakan bahwa sekitar pada abad ke-11 (Penahunan ini mungkin sangat relatif karena kerajaan Lamuri telah eksis sebelum abad ini, penahunan yang lebih tepat adalah antara abad ke 2-9 M), Kerajaan Lingga didirikan oleh orang-orang Batak Gayo pada era pemerintahan Sultan Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak. Informasi ini diketahui dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesan dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang kedua-duanya pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda.

Raja Lingga I, yang menjadi keturunan langsung Batak, disebutkan mempunyai 6 orang anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga, Meurah Johan dan Meurah Lingga, Meurah Silu dan Meurah Mege.

Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Batak leluhurnya tepatnya di Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri atau Lambri. Ini berarti kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai. Kesultanan Daya merupakan kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.

Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk.
Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

DINASTI LINGGA

1. Adi Genali Raja Lingga I di Gayo
Raja Sebayak Lingga di Tanah Karo. Menjadi Raja Karo
Raja Meurah Johan(pendiri Kesultanan Lamuri)
Meurah Silu (pendiri Kesultanan Samudera Pasai), dan


2. Raja Lingga II alias Marah Lingga di Gayo 3. Raja Lingga III-XII di Gayo 4. Raja Lingga XIII menjadi Amir al-Harb Kesultanan Aceh, pada tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor baru di Malaysia yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Mansyur Syah. Raja Lingga XIII diangkat menjadi kabinet di kerajaan baru tersebut. Keturunannya mendirikan Kesultanan Lingga di kepulauan Riau, pulau Lingga, yang kedaulatannya mencakup Riau (Indonesia), Temasek (Singapura) dan sedikit wilayah Malaysia.

Raja-raja di Sebayak Lingga Karo tidak terdokumentasi. Pada era Belanda kembali diangkat raja-rajanya tapi hanya dua era 1. Raja Sendi Sibayak Lingga. (Pilihan Belanda) 2. Raja Kalilong Sibayak Lingga

GUSDUR PENERUS WALI SONGO


Jalan Lurus Menuju Jalan-MU
 
Kedekatan saya dengan gus Dur diawali sekitar tahun 1983. Ia sering datang kerumah, dan berbincang-bincang dengan santai dan familiar. Gus Dur berbicara dengan sangat bebas dan terbuka dengan tanpa ada tirai sedikit pun. Itu berjalan hampir kurang lebih tujuh tahun, ketika Gus Dur masih banyak waktu. Namun, saat kesibukannya mulai banyak, ia mulai jarang datang.
Selama pergaulan itu, saya melihat pemikiran dan sikap Gus Dur sama seperti umumnya kiai-kiai pesantren. Gus Dur , kalau menurut ukuran santri, sebenarnya tidak ada yang terlalu nyeleneh, biasa saja.pemikiran-pemikirannya biasa, dan hanya meneruskan tradisi-tradisi yang sudah ada di pesantren.karena Gus Dur memang datang dari latar belakang yang khas (pesantren). akibatnya ketika orang luar pesantren menilai Gus Dur- tanpa memahami dunia pesantren-sering kali jatuh pada kesimpulan nyeleneh. Misalnya, tentang ide pribumisasi Islam. Ide itu sebenarnya sesuai dengan kebiasaan NU yang mewarisi tradisi walisongo. Lalu, pribumisasi Islam ini menjadi ide besar Gus Dur. Inilah yang saya maksud, bahwa pemikiran Gus Dur itu biasa dan memang sudah ada sebelumnya.
Saya paham, karena Gus Dur datang dari pesantren, maka basic pemikirannya pun pasti datang dari tradisi pesantren. bisa dikatakan, Gus Dur itu merupakan cerminan jiwa santri. Namun, karena Gus Dur banyak bergumul dengan literature Barat ketika di Mesir dan di Baghdad, maka beda dengan santri biasa. Sebagaimana dengan yang diakui Gus Dur sendiri, sejak kecil dia sudah biasa mempelajari filsafat, dan ketika berumur 16 tahun, ia sudah khatam membaca Des capital. Jadi pada dasarnya, pemikiran Gus Dur ber-basic pesantren, baru pada tahap pengembangannya menyerap unsur pemikiran Barat.
Dalam hal ini, Gus Dur pernah mengakui, sewaktu ICMI baru akan dibentuk, Nurcholis Madjid mengajaknya masuk kedalam ICMI, tetapi Gus Dur menolak dengan alasan sektarianisme. Dalam obrolan teman-teman ICMI, “kalau Gus Dur tidak masuk ICMI, Gus Dur akan kehilangan basis intelektualnya.”Gus Dur segera menimpali, “sejak kapan ICMI menjadi basis intelektual saya, basis intelektual saya itu di pesantren, kiai pondokan, sekali lagi bukan di ICMI.” Pada kesempatan lain, Gus Dur juga mengakui bahwa “saya ini kiai pesantren”. dari situ jelas bahwa Gus Dur adalah santri yang punya kerangka dan wawasan yang punya kerangka dan wawasan yang bisa mengemas pesantren sesuai selera kontemporer (kontekstual). Nah, begitulah Gus Dur.
Di samping itu, Gus Dur juga sosok yang luar biasa, bukan dalam arti bersetatus wali , tapi lebih pada sikap bijaksana, super. Bagi orang yang menganggap waki, itu terserah. Sebab tergantung siapa yang menilai. Dengan Gus Dur sebagai tokoh agama, banyak orang lantas lebih bersikap husnu al-dhan (prasangka baik)dari pada su’u al-dhan (prasangka buruk) dalam menilai. Dari husnu al-dhan ini, segala macam sikap dan perbuatanGus Dur selalu diterma tanpa berusaha mengkritisinya lebih dulu. Ketika ada yang berusaha melakukan reaksi (kritik), dari tindakan yang dilakukan Gus Dur, ternyata-setelah sya kejar-kejar untuk mendapat jawabannya- reaksi itu hanya sebatas pada tataran teknis aplikatif, yang dianggapnya terlalu sulit, mengawang-awang. Bukan pada aras substansi pemikiran Gus Dur. Malah kalau ada kesempatan berdialog dengan Gus Dur bisa jadi sikap kontra itu berubah menjadi pro, pengikut setia. Lagi-lagi, bukan pada substansi pemikiran, tapi mungkin juga lebih pada kepentingan politik semata.
Akan tetapi, dalam hal-hal tertentu yang para kiai belum paham setelah mendapatkan penjelasan dari Gus Dur, mereka jadi legowo. Meski begitu banyak pula kiai yang berusaha mengkritik Gus Dur. Kayak Kiai Musthofa Bisri yang kerap melontarkan kritik pada rapat-rapat tertutup PBNU, atau kiai-kiai sepuh dalam obrolan-obrolan terbuka. “anu loh Gus, jalannya jangan cepat-cepat, kami tidak bisa mengikuti,” begitu kritik kiai sepuh. Dikritik begitu, gus Dur menjawab , “secepat-cepatnya saya kan masih muda , kalau pak kiai kan sudah tua.’kritikan-kritikan tersebut sebenarnya tajam , tapi caranya yang beda dan lebih halus. Belum lagi didukung oleh suatu factor, bahwa sesungguhnya para kiai sangat husnu al-dhan terhadap Gus Dur, karena ia cucu dari Hadaratus Syeikh hasyim Asy’ari.
Latar belakang diterimanya pemikiran Gus Dur di kalangan kiai, diantaranya, karena Gus Dur menguasai cabang-cabang ilmu yang ada di Pondok Pesantren, misalnya ilmu alat(nahwu), fiqh, dan tasawuf. Dan juga karena sangkut paut hubungan kiai dan santri dalam pesantren. sampai pada massalah syair-syair, dari syair jahiliyah sampai syair abbasiyah, dari nama penyair sampai isi syairnya , Gus Dur banyak hapal. Saya juga dalam hal syair-syair yang aneh, dari yang sufi sampai yang yang paling jorok kadang hapal. Tapi, kalau ngobrol sam Gus Dur mengenai syair, ada saja syair yang ternyata belum saya ketahui. Mulai dari yang aneh isi dan tulisannya, nyatanya Gus Dur tahu syair-syair yang seperti itu. Ada juga ilmu yang sangat Gus Dur dalami, yaitu fiqih dan tasawuf. Pokoknya bicara apa saja nyambung. Ketika kita ingin mengadu argumentasi atau pemikiran dengan Gus Dur, kita jadi minder duluan. Karena, Gus Dur sering memberokan alasan-alasan yang tak terduga sebelumnya.
Kelemahan Gus Dur selama ini terdapat dalam setiap mengartikulasikan produk pemikiran pada tataran teknis aplikatif. Ia sering tidak memperhitungkan, atau tidak memperdulikan tanggapan orang lain. Masyarakat ngerti atau tidak terhadap pemikiran yang Ia lontarkan, Gus Dur bersikap masa bodoh. Padahal hidup di dunia itu kan tidak sendirian, tidak semestinya Dia seperti itu. Yang terjadi memang, ketika mengajak orang awam untuk maju, kita tersandung oleh kesulitan memahami dan menafsirkan lontaran pemikran Gus Dur. Akhirnya ambivalensi terjadi ketika kita hendak memajukan orang awam. Kalau Gus Dur sendiri jelas sudah maju, tapi lagi-lagi kalau disampaikan kepada Gus Dur, Ia menjawab, “kalau tidak dipaksa-paksa malah tidak maju-maju.”
bersambung...
 
(tulisan ini merupakan hasil transkrip wawancara saudara Marzuki Wahid dengan alm KH.MA. Fuad Hasyim.../Pengasuh Pon.Pest. Nadwatul Ummah Buntet Pesantren Cirebon).


Rabu, 02 Mei 2012

Sepucuk surat dari seorang ayah

Sepucuk Surat Goresan di Atas Daun

Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang laki-laki kepada seorang laki-laki; surat seorang ayah kepada seorang ayah.

Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia. Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.

Nak, menjadi ayah itu mulia. Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog  seorang ayah dengan anak-anaknya.

Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit. Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu. Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun. Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan dengan Nya, hingga saat usia senja ini.

Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu. Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua.

Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: "TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya. Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Tuhan. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu. Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.

Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau. Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi, kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata dihadapan Tuhan. Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.

Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena  kau dan ibumu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.

Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan. Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.

Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar dapat kau rasakan perjalanan ruhaniah yang sebenarnya.

Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti, Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir  putus asa.

Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya. Dari ayah yang senantiasa merindukanmu.

(disalin dari lembaran da'wah "MISYKAT" No.8)