Senin, 07 November 2011

PROBLEM JIWA MANUSIA MODERN

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Adanya kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari berbagai persaingan yang sangat bergengsi dan dampaknya akan membawa manusia mudah putus asa, stress dan frustasi.

Pola hidup manusia di masyarakat modern sekarang yang penuh materialisme dan hedonisme kini menjadi kegemaran dan pada saat mereka tidak lagi mampu menghadapi persoalan hidupnya, mereka cenderung ambil jalan yang tidak sesuai dengan syariat agama seperti bunuh diri. Akarnya adalah karena tidak stabilnya jiwa manusia yang telah jauh dari keimanannya.

Justru dari permasalahan diatas perlu solusi terbaik dengan mempertebal keimanan manusia melalui ajaran aqidah dan akhlak tasawuf.

BAB II

PROBLEM JIWA MANUSIA MODERN

1. MASYARAKAT MODERN

1.1. Pengertian Masyarakat Modern.

Sebelum mengetahui apa pengertian dari Masyarakat Modern, kita akan mengartikan terlebih dahulu dua katanya yaitu terdiri dari masyarakat dan modern. Melihat dari kamus besar bahasa Indonesia, kata masyarakat diartikan sebagai pergaulan hidup manusia (himpunan orang yang hidup bersama disuatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan yang tertentu). Sedangkan kata modern diartikan yang terbaru, baru, mutakhir[1]. Dengan demikian pengertian masyarakat modern adalah suatu himpunan orang yang hidup bersama disuatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir.

1.2. Ciri-ciri masyarakat modern[2].

1.2.1. Bersifat rasional.

Yakni lebih mengutamakan pendapat akal pikiran, dari pada pendapat emosi. Sebelum melakukan pekerjaan selalu dipertimbangkan terlebih dahulu untung dan ruginya, dan pekerjaan tersebut secara logika dipandang menguntungkan.

1.2.2. Berpikir ke depan.

Yaitu maksudnya berpikir untuk masa depan yang lebih jauh, tidak hanya memikirkan masalah yang bersifat sesaat, tetapi selalu dilihat dampak sosialnya secara lebih jauh.

1.2.3. Menghargai waktu.

Yaitu selalu melihat bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dan perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

1.2.4. Bersikap terbuka.

Yakni mau menerima saran, masukan, baik berupa kritik, gagasan dan perbaikan dari manapun datangnya.

1.2.5. Berpikir obyektif.

Yakni melihat segala sesuatu dari sudut fungsi dan kegunaannya bagi masyarakat.

1.3. Penyakit Jiwa Manusia Modern.

1.3.1. Desintegrasi Ilmu Pengetahuan.

Kehidupan modern ditandai dengan adanya spesialisasi di bidang ilmu pengetahuan. Masing-masing ilmu pengetahuan memiliki caranya sendiri dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Keadaan berbagai ilmu pengetahuan yang saling bertolak belakang antara satu disiplin ilmu atau filsafat dan lainnya terdapat kerenggangan, bahkan tidak tahu-menahu. Hal ini, merupakan pangkal terjadinya kekeringan spiritual, akibat pintu masuknya tersumbat. Dengan menyempitnya pintu masuk bagi persepsi dan konsepsi spiritual, maka manusia modern semakin berada pada garis tepi, sehingga tidak lagi memiliki etika dan estetika yang mengacu pada sumber ilahi

1.3.2. Kepribadian yang Terpecah.

Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering nilai-nilai spiritual, maka manusia menjadi pribadi yang terpecah. Kehidupan manusia modern diatur menurut rumus ilmu yang excaxt dan kering. Akibatnya, hilang proses kekayaan rohaniyah, karena dibiarkannya perluasan ilmu-ilmu positif dan ilmu social. Jika proses keilmuan yang berkembang itu tidak berada di bawah kendali agama, maka proses kehancuran pribadi manusia akan terus berjalan, sehingga bukan hanya kehidupan kita yang mengalami kemerosotan, tetapi juga kecerdasan dan moral.

1.3.3. Penyalahgunaan Iptek

Sebagai akibat dari terlepasnya ilmu pengetahuan dan teknologi dari ikatan spiritual, maka iptek telah disalahgunakan dengan segala implikasi negatifnya. Kemampuan membuat senjata telah diarahkan untuk tujuan penjajahan pada suatu bangsa atau bangsa lain. Kemampuan di bidang rekayasa genetika diarahkan untuk tujuan jual-beli manusia. Kecanggihan di bidang teknologi komunikasi dan lainnya telah digunakan untuk menggalang kekuatan yang diarahkan pada pemberontakan.

1.3.4. Dangkalnya Iman menghancurkan moral umat

Sebagai akibat lain dari pola pikiran keilmuan, khususnya ilmu-ilmu yang hanya mengakui fakta-fakta yang bersifat empiris menyebabkan manusia dangkal imannya. Mereka tidak tersentuh oleh informasi yang diberikan oleh wahyu, bahkan informasi yang dibawa oleh wahyu itu menjadi bahan tertawaan dan dianggap tidak ilmiah dan kampungan.

1.3.5. Pola Hubungan Materialistik

Pola hubungan satu dan lainnya ditentukan oleh seberapa jauh antara satu dan lainnya dapat memberikan keuntungan yang bersifat material. Demikian pula penghormatan yang diberikan seseorang atas orang lain banyak diiukur oleh sejauh mana orang tersebut dapat memberikan manfaat secara material. Akibatnya, menempatkan pertimbangan material di atas pertimbangan akal sehat, hati nurani, kemanusiaan dan imannya.

1.3.6. Menghalalkan Segala Cara

Sebagai akibat lebih jauh dari dangkalnya iman dan pola hidup materialistik, maka manusia dengan mudah dapat menggunakan prinsip menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan. Jika hal ini terjadi maka terjadilah kerusakan akhlak dalam segala bidang, baik ekonomi, politik, sosial, dan lain sebagainya.

1.3.7. Stres dan Frustasi

Kehidupan modern yang demikian kompetitif menyebabkan manusia harus menyerahkan seluruh pikiran, tenaga dan kemampuannya. Mereka terus bekerja dan bekerja tanpa mengenal batas dan kepuasan. Apalagi jika usaha dan proyeknya gagal, maka dengan mudah kehilangan pegangan, karena memang tidak lagi memiliki pegangan yang kokoh yang berasal dari Tuhan. Akibatnya jika terkena problem yang tidak dapat dipecahkan, maka akan stres dan frustasi yang jika hal ini terus-menerus berlanjut akan menjadi gila.

1.3.8. Kehilangan Harga Diri dan Masa Depan

Terdapat sejumlah orang yang terjerumus atau salah memilih jalan kehidupan. Masa mudanya dihabiskan untuk menuruti hawa nafsunya. Namun pada suatu saat sudah tua renta, fisiknya sudah tidak berdaya. Tenaganya sudah tidak mendukung, dan berbagai kegiatan sudah tidak dapat dilakukan. Fasilitas dan kemewahan hidup sudah tidak berguna lagi, karena fisik dan

mentalnya sudah tidak memerlukan lagi. Manusia yang seperti ini merasa kehilangan harga diri dan masa depannya[3].

1.4. Gangguan Kejiwaan Manusia Modern[4]

1.4.1. Kecemasan.

Hilangnya makna hidup pada manusia modern menyebabkan perasaan cemas diderita manusia modern, karena secara fitri manusia memiliki kebutuhan akan makna hidup. Makna hidup seseorang ada dikala ia memiliki kejujuran dan merasa hidupnya dibutuhkan oleh orang lain dan merasa mampu dan telah mengerjakan sesuatu yang bermakna untuk orang lain.

1.4.2. Kesepian.

Kesepian bersumber dari hubungan antar manusia dikalangan masyarakat modern yang tidak lagi hangat dan tulus. Penyebabnya karena semua manusia modern menggunakan topeng-topeng social untuk menutupi wajah kepribadiannya. Berkomunikasi tidak pernah memperkenalkan dirinya sendiri, tetapi selalu menunjukkan sebagai seseorang yang sebenarnya bukan dirinya.

1.4.3. Kebosanan.

Manusia modern menderita gangguan kejiwaan berupa kebosanan karena hidup sudah tak bermakna lagi dan hubungan antar manusia terasa hambar tiada ketulusan hati. Kecemasan dan kesepian yang berkepanjangan akhirnya membuatnya menjadi bosan, bosan kepada kepura-puraan dan kepalsuan, tetapi ia tidak tahu harus melakukan apa untuk menghilangkan kebosanan itu.

1.4.5. Perilaku menyimpang.

Kecemasan, kesepian dan kebosanan yang diderita kepanjangan, menyebabkan seseorang tidak tahu persis apa yang dilakukan. Tidak bisa memutuskan sesuatu dan tidak tahu jalan mana yang harus ditempuh. Dalam keadaan inilah manusia mudah sekali diajak atau dipengaruhi untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan meskipun perbuatan itu menyimpang dari norma-norma moral.

1.4.6. Psikosomatik.

Merupakan gangguan fisik yang disebabkan oleh factor-faktor kejiwaan dan sosial. Seseorang jika emosinya menumpuk dan memuncak maka hal itu dapat menyebabkan terjadinya goncangan dan kekacauan dalam dirinya. Jika factor-faktor yang menyebabkan emosi memuncak tidak dapat dijauhkan maka ia dipaksa untuk selalu berjuang menekan perasaannya, Jadi psikosomatik dapat disebut sebagai penyakit gabungan, fisik dan mental.

2. JIWA DAN KEAGAMAAN

2.1. Pengertian Jiwa Dan Agama

2.1.1. Pengertian jiwa

Menurut Najati (2002:24), Al Kindi mendefinisikan jiwa sebagai kesempurnaan awal bagi fisik yang bersifat alamiah, mekanistik, dan memiliki kehidupan yang energik, atau kesempurnaan fisik yang alami, yang memiliki alat dan mengalami kehidupan[5].

Jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur bagi sekalian perbuatan perbuatan pribadi dari hewan tingkat tinggi dan manusia[6].

Jiwa adalah badan halus manusia, yang bisa bepergian keluar dari Jasad , ketika manusia sedang bermimpi, atau ketika ber ’OBE’ ria (Out of Body Experience) atau PLB – Perjalanan Luar Badan. Jiwa, merupakan tubuh halus manusia. Jiwa memiliki perangkat-perangkat yang menyebabkan manusia dicap sebagai makhluk sosial, makhluk cerdas (Aqal), makhluk spiritual (Qolbu).

Jiwa yang menanggung semua akibat perbuatan tubuh fisik dan tubuh eterik. Jiwa diciptakan sempurna tanpa cacat. Tidak ada yang terlahir sakit jiwa. Nggak ada bayi edan. Jiwa adalah putih bersih ketika dilahirkan, lingkungan dan pengalamanlah yang membuatnya bisa tetap putih atau kotor.

2.1.2. Pengertian agama

Agama sebagai dimensi spiritual kehidupan manusia harus mendapat posisi yang lengkap dan integral dengan kajian psikologi[7].Agama adalah suatu ajaran dimana setiap pemeluknya dianjurkan untuk selalu berbuat baik. Untuk itu semua penganut agama yang mempercayai ajaran dan melaksanakan ajarannya mereka akan senantiasa melaksanakan segala hal yang ada dalam ajaran tersebut. Manusia tidak bisa dilepaskan dengan agama, oleh karena itu agama dan manusia berhubungan sangat erat sekali. Ketika manusia jauh dari agama. Maka akan ada kekosongan dalam jiwanya. Walaupun mungkin kebutuhan materialnya mereka terpenuhi. Akan tetapi kebutuhan batin mereka tidak, sehingga mereka akan mudah terkena penyakit hati.

Penyakit hati yang melanda manusia yang tidak beragama akan senantiasa mengahantui mereka sehingga mereka akan mudah putus asa. Oleh karena itu orang yang tidak beragama ketika mendapatkan persoalan hidup mereka akan mudah putus asa dan akhirnya mereka akan melakukan penyimpangan atau tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma atau ajaran agama.

2.2. Komponen – Komponen Jiwa

Ada tiga komponen jiwa, yaitu akal, rasa dan ruh. Komponen akal merupakan yang paling sering digunakan oleh manusia. Akal merupakan fasilitas manusia untuk memahami dan menyampaikan materi atau informasi secara sistematis dan terukur[8]. Seperti yang pernah dikatakan oleh filosuf klasik Yunani, Aristoles, bahwa akal merupakan sesuatu yang khas manusiawi[9]. Akal atau rasiolah yang membedakan manusia dengan hewan. Akal merupakan alat utama untuk berpikir. Banyak ketidaktenangan jiwa terjadi karena kekacauan proses berpikir. Proses berpikir haruslah fokus, sistematis, tertib dan runut. Ketidakfokusan dalam berpikir memunculkan rasa cemas. Manusia tidak bisa memikirkan dua hal dalam satu waktu.

Jika ada beberapa hal yang kita pikirkan dalam satu waktu, akan ada proses saling menginterupsi antara pikiran satu dengan pikiran yang lain. Pengalihan dari pikiran satu ke pikiran lain menimbulkan semacam ketegangan dalam otak, sehingga jika proses interupsi ini terjadi berkali-kali dengan begitu banyak penginterupsi akan membuat ketegangan meningkat yang kemudian membuat kelelahan pada jiwa. Jiwa yang lelah, rentan dimasuki oleh pikiran-pikiran yang mendorong ke arah kecemasan.

Komponen kedua dari jiwa, yaitu rasa. Rasa yang dimaksud dalam tulisan ini, hanya saja rasa yang ini tidak dikecap menggunakan inderawi (lidah) tapi dikecap dengan jiwa (unsur yang tak terlihat, di luar materi). Hasil pengecapan dengan jiwa itulah yang menimbulkan sensasi marah, sedih ataupun senang. Ketidaktenangan jiwa muncul akibat tidak diaktifkannya komponen rasa, kalaupun diaktifkan kadang terjadi salah perlakuan terhadap sensasi yang ditimbulkan, yaitu dengan pelepasan efek sensasi yang tidak terkontrol ataupun terlalu menekan efek sensasi sehingga sedikit sekali efek sensasi yang dilepaskan bahkan tidak ada sedikitpun.

Komponen ketiga dari jiwa yaitu ruh. Ruh merupakan aspek Ilahiah dalam diri manusia. Dalam kepercayaan Islam, bahwa pada usia empat bulan setiap janin dalam kandungan akan ditiupkan ruh, dan ruh itulah yang memberi kehidupan pada manusia. Ketidaktenangan hidup banyak disebabkan oleh hilangnya kepastian dan rasa aman dalam hidup. Pemikiran materialistis membuat manusia mengedepankan akal tanpa meluangkan waktu untuk perkembangan ruh. Berbeda dengan akal yang jika diasah akan membuat manusia menjadi kritis (mempertanyakan segala sesuatu) bahkan cenderung menjadi skeptis (meragukan segala sesuatu), ruh jika diasah akan membawa pada perasaan yakin dan percaya. Akal membutuhkan penjelasan logis, tapi ruh membutuhkan kepatuhan.

Jadi, untuk memberikan ketenangan jiwa ada tiga komponen yang mesti kita kenali dalam jiwa, yaitu akal, rasa dan ruh.

2.3. Qalbu

Hati (qalbu) menurut Al – Ghazali adalah unsur halus yang bersifat ketuhanan dan metafisik yang berada pada bentuk hati yang bersifat jasmani[10]. Dengan hati, manusia mampu menembus rahasia alam gaib dan nilai nilai illahiyah.

Rasulullah SAW bersabda : “ Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekepal daging, kalau itu baik, baiklah seluruh tubuh. Kalau itu rusak, rusaklah seluruh tubuh. Itulah qalbu” (HR.Bukhori dan Muslim).

Qolbu adalah Jantungnya Jiwa. Qolbulah yang menentukan baik -buruknya Jiwa. Gelap-terangnya Jiwa.Sesungguhnya Ruh itu selalu mengajak Jiwa ke jalan yang lurus, tetapi setan sangat gigih mengobok-obok instrumen-instrumen Jiwa agar sesat. [Firman Allah dalam Al-Qur'an: Setan adalah musuh yang nyata]

2.4. Tingkatan Kesadaran Jiwa

Jiwa Secara garis besar, ada 7 (tujuh) lapisan yang membatasi antara Jiwa dan Ruh, yang berkorelasi dengan tingkatan kesadaran Jiwa.

1. Pemurnian Budi

2. Pemurnian Rasa

3. Pemurnian Hati

4. Keheningan Jiwa

5. Kebebasan batin

6. Pengorbanan diri karena cinta

7. Pencerahan

Lapisan tersebut hanya bisa terbuka dengan melalui sedikit cara. Salah satu caranya adalah dengan serius berupaya membersihkan diri, membersihkan Jiwa, membersihkan Qolbu (hati) dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Swt. Atau merupakan sebuah anugrah karunia-Nya.

Lapisan ini berubah menjadi hijab kalau kotor. Bila pada lapisan satu yang kotor (hijab) berakibat komunikasi antara dengan Ruh terganggu. Muncullah penyakit non-fisik / kejiwaan (nafs) seperti pemarah, kejam, nafsuan,dll)[11].

3. SOLUSI UNTUK PENANGGULANGAN PENYAKIT DAN GANGGUAN JIWA MANUSIA MODERN

3.1. Penanggulangan Penyakit Manusia Modern.

Cara untuk mengobati penyakit manusia modern tidak lain dengan mengubah jiwa manusia modern tersebut menjadi manusia yang berjiwa keagamaan. Karena derita manusia modern berasal dari kerangkeng yang membelenggunya, maka jalan keluar dari problem itu adalah dengan berusaha keluar dari kerangkeng itu. Kerangkeng dimana berupa nilai atau tepatnya kekosongan nilai.

Untuk keluar dari kerangkengnya maka mulanya manusia modern harus terlebih dahulu mengenali kembali jati dirinya. Bagi yang belum terlalu parah, ia dapat diajak berdialog, berfikir dan merenung tentang apa yang terjadi dan seberapa sisa hidupnya, dan bagi yang sudah parah, maka ia sebaiknya dibawa saja dalam situasi yang tidak memberi peluang selain berfikir dan merasa berada dalam suasana religious[12].

3.2. Penanggulangan Gangguan Jiwa Manusia Modern.

Tidak jauh berbeda dengan menanggulangi penyakit manusia modern, untuk menanggulangi gangguan jiwa manusia modern atau bisa dikatakan sebagai akibat dari kekusutan rohani atau mental, ini sebenarnya dapat dilakukan sejak dini oleh penderita. Dengan mencari cara yang tepat untuk menyesuaikan diri dengan memilih norma-norma moral, maka kekusutan mental akan terselesaikan. Norma-norma moral yang positif termasuk ajaran dari pada agama.

Untuk menangani gangguan jiwa yang berhubungan dengan mental ini banyak yang menggunakan cara pengobatan tradisional dan modern. Akan tetapi dari berbagai kasus yang ada justru banyak penderita kejiwaan yang disembuhkan dengan pendekatan agama atau kepercayaan. Hal ini membuktikan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang ber-Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan pada suatu saat. Sehingga ketika mereka terhimpit permasalahan batin mereka akan lari kepada agama dan menemukan jawaban dari permasalahan yang mereka hadapi.

Upaya mencapai ketenangan jiwa dapat kita lakukan dengan memberdayakan ketiga komponen tersebut, yaitu dengan cara memfokuskan pikiran pada satu titik (tujuan yang hendak dicapai), mengenali apa yang dirasakan oleh jiwa serta menyalurkan efek dari rasa tersebut secara terkontrol ke lingkungan luar diri, dan memperkuat keyakinan kepada kekuatan ghaib “Yang Maha Berkuasa” melalui kepatuhan menjalankan ritual-ritual ibadah dalam agama.

Al-Quran berfungsi sebagai As-Syifa atau obat untuk menyembuhkan penyakit fisik maupun rohani[13]. Dalam Al-Quran banyak sekali yang menjelaskan tentang kesehatan. Ketenangan jiwa dapat dicapai dengan zikir (mengingat) Allah. Rasa taqwa dan perbuatan baik adalah metode pencegahan dari rasa takut dan sedih. Dan ketika seseorang mengalami permasalahan dalam kehidupannya maka hadapilah dengan sabar dan sholat sebagai jalan keluar dari segala macam permasalahan dan ketika segala macam usaha telah dilakukan secara maksimal maka serahkanlah segala macam urusan kita, hidup mati kita, sehat sakit kita hanya kepada Allah semata karena hanya kepada Dialah segala macam urusan dikembalikan. Dan barang siapa yang menyerahkan segala urusan dunia dan akhiratnya hanya kepada Allah, maka Allah akan memberikan rasa aman pada hati mereka, tenang dan tentram sehingga mereka dapat beraktivitas dengan maksimal[14].

BAB. III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Pola hidup manusia di masyarakat modern sekarang yang penuh materialisme dan hedonisme kini menjadi kegemaran dan menimbulkan berbagai penyakit kejiwaan. Maksud masyarakat modern tersebut adalah suatu himpunan orang yang hidup bersama disuatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir, yang dimana sekarang penuh dengan kemaksiatan.

Oleh karena itu, masyarakat modern perlu pengupayaan untuk mencapai ketenangan jiwa, dapat dilakukan dengan memberdayakan ketiga komponen, seperti yaitu dengan cara memfokuskan pikiran pada satu titik (tujuan yang hendak dicapai), mengenali apa yang dirasakan oleh jiwa serta menyalurkan efek dari rasa tersebut secara terkontrol ke lingkungan luar diri, dan memperkuat keyakinan kepada kekuatan ghaib “Yang Maha Berkuasa” melalui kepatuhan menjalankan ritual-ritual ibadah dalam agama.

REFERENSI :

- W.J.S. Poerwadarminta, “ Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, Cet. XIII, 1991.

- Noer Deliar, “ Pembangunan di Indonesia “, Mutiara, Jakarta, 1998.

- Komaruddin Hidayat, “ Upaya Pembebasan Manusia , Grafiti Pers, Jakarta, Cet.II, 1987.

- Rafy Sapuri,M.Si. “ Psikologi Islam: Tuntutan Jiwa Modern “. Jakarta. 2009.

- Drs. H. Abu Ahmadi., “ Psikologi Umum “, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2003.

- Drs. Bambang Syamsul Arifin, M.Si, “ Psikoloi Agama “, Pustaka Setia, Bandung., 2007.

- Dr. Ahamad Husain Salim, “ Menyembuhkan Penyakit Jiwa dan Fisik “, Gema Insani, Jakarta, 2000.

- http://www.paranorms.org/t353-7-tahap-perjalanan-jiwa

- http://bayuaktami.blogspot.com/search/label/Filsafat%20Jiwa

- http://radensomad.com/hubungan-agama-dan-kesehatan.html



[1] W.J.S. Poerwadarminta, “ Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai pustaka, Jakarta, Cet. XIII, 1991.

[2] Noer Deliar, “ Pembangunan di Indonesia “, Mutiara, Jakarta, 1998, hal. 28.

[3] Komaruddin Hidayat, “ Upaya Pembebasan Manusia “, Grafiti Pers, Jakarta, Cet.II, 1987,Hal.55.

[4] Drs. Bambang Syamsul Arifin, M.Si., “ Psikologi Agama “, Pustaka Setia, Bandung, 2007.

[5] Rafy Sapuri,M.Si., “ Psikologi Islam: Tuntutan Jiwa Modern ”, Jakarta, 2009, Hal. 317.

[6] Drs. H. Abu Ahmadi., “ Psikologi Umum “, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2003, Hal. 1.

[7] Rafy Sapuri,M.Si., “ Psikologi Islam: Tuntutan Jiwa Modern “, Jakarta, 2009, Hal. 23.

[8] Rafy Sapuri,M.Si., “ Psikologi Islam: Tuntutan Jiwa Modern “, Jakarta, 2009, Hal.50

[9] http://bayuaktami.blogspot.com/search/label/Filsafat%20Jiwa

[10] Rafy Sapuri,M.Si., “ Psikologi Islam: Tuntutan Jiwa Modern”, Jakarta, 2009, Hal. 44

[11] http://www.paranorms.org/t353-7-tahap-perjalanan-jiwa

[12] Dr. Ahmad Husain Salim, “ Menyembuhkan Penyakit Jiwa dan Fisik “, Gema Insani, Jakarta, 2000.

[13] http://radensomad.com/hubungan-agama-dan-kesehatan.html

[14] http://radensomad.com/hubungan-agama-dan-kesehatan.html

1 komentar: